spongebob
Jumat, 08 Januari 2016
LONG DREAM
Pagi itu hari masih gelap dan tanpa cahaya sang surya. Tiba-tiba mama bergegas membangunkanku dan sudah terkemas koper berisikan baju, entah ada apa gerangan. Dengan mata yang masih setengah sadar aku bertanya :
“mama mau kemana?”
Mama tidak menjawab pertanyaan ku, malah menyuruh ku untuk segera membereskan diriku. Setelah selesai berbenah diri, mama menuntunku keluar rumah dan segera menikki mobil prop(mobil kesayangan mama yang merupakan kenangan dari papa), iya papa ku sudah meninggal satu tahum yang lalu. Tepat pada pukul 10.00 wib, aku dan mama sampai disuatu desa yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi. Desepanjang perjalanan aku sesekali bertanya kepada mama “mau kemana kita ma?” tanyaku sambil menatapnya paras. Tapi mama hanya tersenyum dan berkata “lanjutkan saja tidurmu sayang.” Sejenak aku tertidur dan terbangun karena mobil tiba-tiba berhenti mendadak aku pun terkejut saraya bertanya “kenapa ma?astaga ada kucing hampir tertabrak tadi sayang. “iya non, tiba-tiba saja dia berada di depan mobil, mang ujang juga terkejut.” Tambah mang ujang. Lantas ibu memelukku dipundaknya dan aku pun kembali terlelap. Saat pukul 04.00 wib kami tiba dibandara (sukarno hatta, Jakarta). Lalu mama membangunkan ku kembali, “hati-hati ya non?” ujar mang ujang setelah mengantarkan kami di pintu masuk. Aku tidak terlalu banyak bicara karena keadaan mata yang masih mengantuk. Aku hanya melambaikan tangan seraya berkata “daa…” tapi mama membisikkan sesuatu kepada mang ujang dan mengakhirinya dengan ucapan terima kasih. Beberapa menit kemudian, pesawat pun akhirnya berangkat, di sepanjang perjalanan dipesawat aku tak bisa terlelap karena memikirkaj mau kemana mama mengajakku berkelana. Setelah sampai dibandara tujuan, tepatnya di bandara internasional minagkabau (BIM), Sumatra barat. Aku semakin heran kenapa mama membawaku kesini. Berlanjut pada perjalanan dengan menggunakan mobil travel, aku kembali bertanya kali ini dengan nada agak kesal
“mama sebenarnya kita mau kemana sih? Kok kehutan-hutan gini.” (karna dijakarta jarang ada pohon sebanyak ini, makannya aku sebut hutan) :D
Mama hanya memandangku tersenyum dan tiba-tiba memelukku sambil meneteskan air mata. Aku tambah heran dan bingung.
“mama kenapa kok menangis?” ujarku iba melihat beliau.
Lagi-lagi mama hanya menjawab “tak apa sayang.”
Setelah beberapa jam perjalanan, sampailah aku dan mama pada sebuah desa. Setelah barang-barang kami diturunkan, dan kami pun turun dari mobil, langsung datanglah ibu-ibu menyambut kami, lalu mama membalasa baik pula dengan salam dan sapa yang nampaknya seperti istilah lama sekali tak jumpa. Tak banyak pikirku langsung bersalam pula dengan nya.
Setelah itu kami semua pun masuk kedalam rumah ibu tersebut. Kesan pertama ku waktu menginjakkan kaki dirumah itu, terasa sejuk dan nyaman walaupun sederhana, tapi indah dan bersih sekali. Setelah kutang lebih 10 menit kita berbincang-bincang, akhirnya sampai pada sebuah inti pembicaraan. Dimana inti tersebut membuat aku sangat terkejut dan menangis. Pokok nya sedih sekali. Lalu aku bertanya kepada mama, “kenapa?” Tanya ku sedih.
Mama berkata “sayang , maafkan mama, bukannya mama tidak sayang sama kamu, tapi ini demi kebaikan kamu.” Jelasnya smabil memelukku.
“Tapi, kenapa harus disini ma, kan bisa aku tinggal dibandung atau disurabaya tempat bibi ani atau bibi sani. Terus kalau aku kangen sama mama bagaimana?” tanyaku runtut dan kesal.
“sayang, mungkin mama agak lama perginya, jadi mama nggak mungkin ninggalin kamu disana, kamu ingatkan pesan papa mu? Kamu nggak boleh berfoya-foya, kamu harus berubah. Makannya mama berusaha ajarkan kamu untuk hidup sederhana dna mandiri dengan cara seperti ini.” Jawab mama dengan nada pelan.
Berfikir sejenak, aku tersadar selama ini aku mendapatkan apapun yang aku inginkan dan mama tidak pernah memarahi aku. Timbullah semangatku untuk berubah.
“baiklah ma, aku akan berusaha menerimanya mau tidak mau, aku janji, aku akan berubah ma.” Jawabku sambil memeluknya.
Tidak lama kemudian setelah panjang kali lebar kali tinggi bagi dua kita berbincang-bincang mama langsung segera pamit untuk kembali kejakarta. Hanya rasa sedih lah yang ada dipikiran ku saat itu. Beranjak setelah mengantarkan mama kemobil, aku dan ibu angkatku (ibu tadi) segera kembali kedalam rumah. Ibu menunjukkan kamar untukku beristirahat.
“beristirahatlah dulu, pasti kamu capek setelah perjalananmu.” Kata ibu sembaring menutup pintu. Aku pandang-pandang kamar baru ku itu jauh berbeda sekali dengan kamar lama ku. Tak ada komputer tempat ku bercerita, tak ada le,ari besar dan kaca hias, tak ada meja belajar yang super megah dan tak ada kasur empuk kesayangan ku. Yang ada hanya tempat tidur sederhana dan lemari berukuran sedang dan juga meja hias uang terpisah dengan kaca. Tak banyak pintaku saat itu aku hanya ingin berbaring saja. Terlelap aku dalam pelukan selimut batik. Tak lama kemudian aku terbangun karena mendengar alarm jam berbunyi. Aku baru sadar ternyata ada jam weker tua dan antic di meja dekat kasur ku. Aku mengambil jam iru dan segera mematikannya. Kerika aku akan kembali tidur lagi, tiba-tiba ibu datang dengan membawa selembar kertas
“ada apa bu?” Tanya ku masih terkantuk.
“tidak ada apa-apa. Ini ibu bawakan jadwal untuk mu yang telah kakak angkatmu buat.”
“jadwal?”kata ku heran.
“iya jadwal. Jadi jadwal ini menuntun kamu supaya bisa disiplin.” Jawab ibu sambil memberikannya kepada ku.
Aku lihat sekilas lalu ibu pergi meninggalkan kamarku sambil berkata
“itu jadwal dimulai pada hari besok, jadi sekarang kamu beresin saja dulu baju-baju kamu.”
“Huuufftt…..!semangat!” kataku sambil mehela nafas.
Saat aku mulai membongkar barangku ternyata mama membawakan aku baju-baju yang asing menurutku.
“hah! Baju apaan nih?” tanyaku sambil membongkar koper.
“OMG?!” ujarku tambah heran. Karena didalam koper itu bukanlah baju-baju yang biasa aku pakai dan yang ada hanya baju-baju panjang dan rok panjang. Jelas aku terkejut, karna mama lah yang mengemas barang-barang ku. “hufftt..”ya sudahlah.” Ujarku menghela nafas lagi. Beberapa menit kemudian ibu kembali mndatangi aku dan menyuruhku untuk segera mandi. Perlengkapan mandi sudah aku siapkan. Berjalan aku menuju kamar mandi sambil memandangi rumah baruku
“haaaaaaa?????!!!??”……
“Setan lu…eh setan lu…” kataku karna terkejut.
“hahahaha”. Seorang anak kecil tertawa karna berhasil mengagetkan ku.”
“ih kamu apaan sih” kata ku kesal.
“branden?” kamu nggak boleh jail-jail.”
Branden (N) adalah salah satu anak laki-laki ibu yang masih berumur 5 tahun dia genius, dan sangat bandel.
Berlanjut aku menuju kamar mandi,
“nah, disinilah, silahkan mandi dulu, setelaj itu tolong bantu ibu menyiapkan makan malam.” Jelas ibu. Aku hanya mengangguk.
Setelah selesai mandi, aku bergegas kedaput untuk membantu ibu memasak.
“ibu.” Kata ku sambil datang mendekatinya.
“eh sudah selesai mandinya, mari bantu ibu mengupas bawang merah.”
Oh iya ini anak perempuan ibu namanya fani “hai!” kata fani sambil menjabat tangan ku. Aku menyambutnya dengan senyuman. Mulailah akku mengupas bawang yang sebenarnya aky tidak tahy caranya, aku berusaha untuk tidak mengecewakan ibu. Baru beberapa sayatan mataku sudah merasa pedih dan tanpa sadar aku meneteskan air mata. Seperti orang yang sedang bersedih, air mata dan ingusku mengalir.
“Ambil ini.” Kata ibu sambil menyodorkan tisu kearahku. Fani hanya tersenyum lucu melihatku.
“kok kamu sampai menangis tersendu seperti itu, memangnya kamu tidak pernah mengupas bawang merah ya?” Tanya fani hanya heran. Aku hanya menggelengkan kepala. Setelah kami selesai memasak, kami bersiap-siap untuk makan malam. Dari situ aku tahu ibu memiliki empat orang anak. Anak yang pertama sudah menikah dan sekarang tinggal bersama suaminya. Putrid yang kedua dinggal dinegeri yaitu sedang melanjutkan studinya dan yang ketiga adalah fani. Dia sepantaran dengan aku yaitu kelas 2 smp.
“ayo makan yang banyak nak, tidak usah malu-malu, anggap saja rumah sendiri.” Ujar ayah mengajakku berkomunikasi.
“iya yah.” Jawabku sambil mengangguk.
Nah anak yang terakhir ibu adalah anak laki-laki yang mengagetkan aku tadi sore. Uaitu branden. Jailnya bukan main. ;) :P :D
“bulan berapa kamu lahir?” Tanya ayah kembali mengajakku berkomunikasi.
“bulan September yah.” Jawab aku setelah minum.
“tanggal berapa?” tambah ayah.
“tanggal 7.”jawabku singkat.
Setelah itu Nampak ayah dan ibu berbisik-bisik entah apa yang diperbincangkan sambil tersenyum melihat ke arah ku. Hmm… mencurigakan! ! !
“besok kamu langsung ikutsaja dengan fani kesekolah ya.” Kata ibu.
“haa..! sekolah! Jawab ku terkejut.
Bersambung…….
Langganan:
Komentar (Atom)
